PLTA kayan akan diproyeksikan untuk mengaliri listrik di kawasan industri dan pelabuhan internasional.

Pemerintah akan menggandeng PT Kayan Hidro Energi untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Kayan Kalimantan Utara. Pembangunan PLTA Kayan ini kan dilakukan pada akhir tahun 2019 dan ditargetkan sudah dapat beroperasi pada 2024.

Sebagai informasi, pembangunan PLTA Kayan akan dilakukan dalam lima tahapan. Tahap pertama akan dibangun PLTA Kayan 1 dengan kapasitas sebesar 900 megawatt (MW). Untuk PLTA Kayan 2 akan menghasilkan daya sebesar 1.200 MW.

PLTA Kayan 3 dan 4 menghasilkan kapasitas masing-masing sebesar 1.800 MW dan PLTA kayan 5 menghasilkan daya sebesar 3.200 MW. Total daya yang dihasilkan dari kelima pembangkit tersebut mencapai 9.000 MW.

Pembangunan PLTA Kayan telan dana puluhan miliar dolar AS

PLTA (Satuenergi.com)

Direktur PT Kayan Hidro Energi Khaerony mengungkapkan pembangunan kelima PLTA tersebut diproyeksikan akan rampung dalam kurun waktu 20 hingga 25 tahun.

Kendati demikian, pada tahun 2024, listrik yang dihasilkan oleh PLTA Kayan 1 sudah dapat dipakai untuk menyuplai kebutuhan listrik di Kalimantan. PLTA Kayan juga disebut-sebut sebagai salah satu penyokong kebutuhan listrik di ibu kota baru negara Indonesia.

Dari segi pendanaan, PT Kayan Hidro Energi telah menjalin kerjasama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China yakni Powerchina untuk mengucurkan dana investasi pada mega proyek ini.

Penandatanganan kerjasama tersebut dilakukan pada 13 April 2019 untuk mengembangkan PLTA Hydropower 1 sampai 5 di Sungai Kayan, Kalimantan Utara.

“Investasinya itu investor kita dari Powerchina dengan Central Asia Capital Ltd. Itu investor kita. Kirang lebih joint venture. Kayan mayoritas dari investor yang ada,” terang Khaerony.

Setiap unit pembangkit listrik tenaga air yang dibangun memiliki nilai investasi yang beragam dengan rentang biaya pembangunan sekitar 2,3 hingga 2,7 juta dolar Amerika Serikat (AS) per megawatt.

Total daya yang dihasilkan oleh PLTA Kayan ini sebesar 9.000 MW. Ini artinya pembangunan proyek ini akan menelan dana sekitar 20,7 miiar dolar AS hingga 24,3 miliar dolar AS.

Jika dirupiahkan, pembangunan PLTA Kayan akan menghabiskan biaya sebesar Rp 289,8 triliun hingga Rp 340,2 triliun mengacu kurs Rp 14.000 per dolar AS.

“(investasinya) 2,3-2,7 juta dolar AS per MW. Kenapa tinggi? Karena akses ke lokasi butuh ekstra, termasuk jadi cost tersebut,” Kata Khaerony di Jakarta, Rabu (21/8/2019) seperti dikutip dari detik.com.

PLTA Kayan ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di pusat industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning. Selain itu listrik PLTA ini juga akan digunakan untuk mengaliri listrik di ibu kota negara pengganti DKI Jakarta.