Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan El Nino ekstrem dapat menekan produksi CPO Indonesia pada 2027. Penurunan produksi CPO diproyeksikan mencapai sekitar 4 juta hingga 5 juta ton apabila fenomena tersebut berkembang menjadi sangat kuat.

Selain faktor cuaca, penerapan biodiesel B50 diperkirakan meningkatkan penyerapan minyak sawit untuk kebutuhan domestik. Kombinasi penurunan produksi dan bertambahnya konsumsi dalam negeri berpotensi mengurangi ketersediaan CPO untuk pasar ekspor.

El Nino Ekstrem Tekan Produksi CPO Indonesia

Ketua Umum Gapki, Eddy Martono menjelaskan bahwa dampak El Nino ekstrem terhadap tanaman sawit biasanya baru terasa lebih signifikan pada tahun berikutnya. Karena itu, fenomena El Nino pada 2026 diperkirakan memengaruhi total produksi minyak sawit pada 2027.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Nino 2026 telah memasuki fase kuat dan masih berpotensi menjadi sangat kuat. Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO menetapkan El Nino aktif pada 2 Juni 2026, sedangkan analisis selama Mei hingga Juli menunjukkan intensitasnya berada dalam kategori kuat.

El Nino berbeda dari musim kemarau, tetapi dapat membuat kondisi kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama.

BMKG memperkirakan pengaruhnya di Indonesia mulai berkurang pada pertengahan Oktober ketika musim hujan berlangsung. Namun, secara global fenomena tersebut diproyeksikan tetap aktif hingga Mei 2027.

Dampak terbesar diperkirakan terjadi di wilayah selatan garis khatulistiwa, meliputi NTT, NTB, Bali, Pulau Jawa terutama pesisir, Sumatra bagian selatan, dan Papua bagian selatan.

Kementerian PPN/Bappenas juga menyoroti risiko El Nino terhadap sektor hutan, lahan, dan pertanian. Dampaknya dapat berupa peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan serta penurunan produktivitas padi, kelapa sawit, dan kopi. Risiko gagal panen dan gangguan organisme pengganggu tanaman turut menjadi perhatian.

Baca Juga: Ancaman Indonesia dan Malaysia ke Uni Eropa: Ekspos Minyak Sawit Bakal Distop?

Biodiesel B50 Berpotensi Mengurangi Ekspor Sawit

Penerapan biodiesel B50 dapat meningkatkan kebutuhan CPO di dalam negeri. Gapki menegaskan bahwa pemenuhan pasar domestik tetap menjadi prioritas sehingga potensi penurunan pasokan diperkirakan lebih terasa pada volume ekspor, bukan kebutuhan nasional.

Meski pasokan berpotensi berkurang, arah harga CPO masih sulit diprediksi. Pergerakannya tidak hanya dipengaruhi produksi CPO Indonesia dan kebijakan B50, tetapi juga pasokan minyak nabati lain seperti minyak bunga matahari, kedelai, rapeseed, dan canola.

Apabila pasokan minyak nabati lain meningkat, harga produk tersebut dapat tertekan dan turut memengaruhi harga CPO. Oleh karena itu, penurunan produksi sawit tidak otomatis menyebabkan kenaikan harga secara langsung.

Produksi CPO di Indonesia pada 2027 menghadapi tekanan dari risiko El Nino ekstrem, sementara B50 meningkatkan kebutuhan domestik. Prioritas pasar dalam negeri membuat ekspor sawit menjadi bagian yang paling berpotensi mengalami pengurangan.

Demikian informasi seputar produksi CPO Indonesia 2027. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Touristcompany.Org.

Related Post