Bank Indonesia (BI) mencatat perkembangan bisnis di Bali berupa persewaan kantor di Denpasar dan Kabupaten Badung, cukup stabil pada triwulan kedua tahun ini. Bisnis di Bali tersebut diperkirakan akan tumbuh hingga akhir tahun 2018 seiring banyaknya pelaksanaan kegiatan berskala internasional di daerah itu.

Causa Imam mengatakan, dalam survei perkembangan bisnis di Bali pada properti komersial dilakukan Bank Indonesia, disebutkan bahwa total pasokan ruang perkantoran sewa di Bali mencapai 4.700 meter persegi. Dari jumlah itu, tingkat hunian mencapai 60,74 persen atau naik 0,74 persen jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Masih ada kekosongan ruang hunian mencapai 1.845 meter persegi.

“Rata-rata tingkat sewa hunian perkantoran mengalami sedikit kenaikan sebesar 0,74 persen dibanding triwulan sebelumnya,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana di Denpasar, Senin, 13 Agustus 2018.

Pada bisnis di Bali properti harga sewa dasar ruang perkantoran di dua daerah tersebut mencapai Rp 162.500 persegi per bulan, masih sama dengan triwulan pertama tahun 2018. Ukuran ruang perkantoran sewa yang paling diminati saat ini, yaitu ruang dengan ukuran yang relatif kecil dan sedang, dengan kisaran luas 50 sampai 100 meter persegi.

Bank Indonesia memprediksi pada bisnis di Bali properti pasokan ruang perkantoran tidak mengalami perubahan karena belum ada gedung perkantoran komersial baru. “Rata-rata harga sewa dasar ruang perkantoran di dua daerah itu mencapai Rp162.500 persegi per bulan, masih sama dengan triwulan pertama tahun 2018. Ukuran ruang perkantoran sewa yang paling diminati saat ini, lanjut dia, yakni ruang dengan ukuran yang relatif kecil dan sedang, dengan kisaran luas 50m2 hingga 100m2,” papar Causa.

Bank sentral itu memprediksi pasokan ruang perkantoran tidak mengalami perubahan karena belum ada gedung perkantoran komersial baru. Salah satu kegiatan internasional yang akan dilaksanakan di Nusa Dua, Bali, yakni pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, 8-14 Oktober 2018.

Pertemuan itu dijadwalkan dihadiri sekitar 15 ribu delegasi dari 189 negara terdiri dari kepala negara, menteri keuangan, gubernur bank sentral, pelaku usaha, media, akademisi, lembaga swadaya masyarakat dan instansi lainnya. Kegiatan tersebut harapannya bis amembawa angin segar bagi pelaku bisnis di Bali dalam segala sektor industri.